Artikel Terbaik Lomba Essay PKKMB 2020 oleh Adittya Arif Firmansyah

Jumat, 02 Oktober 2020 - 09:38:28 WIB
Dibaca: 99 kali

 

Hoax terkait pandemi Covid-19

                Maraknya hoax terkait pandemi Covid-19 mengakibatkan kewaspadaan akibat dampak dari pandemi corona virus disiase 2019 (covid-19). Pandemi covid-19 ini berdampak sangat luas dan menyangkut berbagai bidang, salah satunya terkait pembuatan, penyebaran, kabar / informasi atau berita yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya atau biasa disebut sebagai hoax.

                Menurut pandangan saya secara umum langkah yang diambil pemerintah saat ini sudah dijalur yang tepat.Pemerintahan telah berusaha untuk mencegah produksi atau distribusi persebaran hoax diluar mayantara Indonesia termasuk soal hoax Covid-19.

Ditengah keperhatinan bersama akibat pandemi ini, hoax tentang Covid-19 ternyata masih tetap saja muncul dan junmlahnya cukup banyak.Kondisi ini diperparah dengan merabaknya ujaran kebencian di sebagian netizen. Seperti perkataan Herwindya mengutip data dari kominfo dari laman portal online Detik.com, menyebutkan bahwa hingga per 18 April 2020 jumlah hoax di Indonesia soal isu Covid-19 mencapai 554 hoax. Hoax ini tersebar di 1.209 platform digital baik di facebook, instagram, twiter maupun youtube.

                Ada beberapa aspek yang harus ditingkatkan. Pertama, terkait gerakan literasi media oleh semua elemen bangsa terutama oleh masyarakat sipil. Hal ini dikarenakan jumlah peliterasi media yang masih terbatas dikalangan tertentu, seperti lembaga –lembaga negara, organisasi relawan atau kalangan kampus. Untuk itu, gerakan literasi media ini harus lebih digalakkan terutama dengan menggandeng simpul-simpul kultural publik seperti melibatkan ormas sosial, kemasyarakatan dan keagamaan di masyarakat dari pusat hingga daerah. Sasaran literasi sendiri belum juga sepenuhnya mencakup semua segmen masyarakat terutama pada generasi milenial sebagai netijen mayoritas. Padahal penetrasi internet atau mensos dilapangan sudah relatif merata disemua kalangan serta akses stabilitaspun relatif mudah dijangkau terutama melalui ponsel pintar.

                Peran pres juga perlu lebih ditingkatkan untuk ikut meliterasi masyarakat melalui produk-produk jurnilisme-nya baik rubrikasi berita, opini, iklan layanan sosial maupun berbagai jaringan wadah dan kerjasama dengan berbagai kalangan.

                Gerakan literasi media  ini,sifatnya jangka panjang, fokus dan kontinu. Untuk itu, dunia pendidikan dari Taman Kanak-kanak, sekolah dasar, sekolah menengah pertama, sekolah menengah ke atas hingga perguruan tinggi adalah sasaran paling tepat. Hal ini karena mayoritas mereka statusnya adalah sebagai warganet dan rata-rata memiliki akun di Medsos dengan ragam platfromnya. Untuk itulah, sangat penting untuk di sempurnakan kurikulum pendidikan yang memuat materi materi literasi media secara lebih struktur, sistematis, dan terpandu guna membekali pelajar dan mahasiswa sekaligus para pendidiknya.

                Kedua  adalah soal peningkatan patrol siber secara  lebih intens oleh pemerintahan untuk mendeteksi dini informasi-informasi bersifat hoax di Medsos atau internet. Saya menyakini jumlah hoax di lapangan bisa jadi kemungkinan lebih banyak dari yang di pikirkan. Terkait itu pula, adalah tepat jika ada upaya penambahan personel khusus yang fokus bekerja mengurusi soal hoax ini. Selain itu, teknologi deteksi hoax perlu lebih ditingkatkan baik kapasitas maupun tingkat kecanggihannya. Semua ini dalam rangka memperlancar dan mengakselerasi penanggulangan virus hoax ini.

                Ketiga, adalah soal peningkatan upaya penegakan hukum bagi para pelaku hoax ini termasuk hoax soal Covid-19.Karena ranahnya di media online, maka tentu upaya penegakan hukum mengacu pada regulasi terkait yakni, UU Nomor 19/2016 tentang perubahan atas UU ITE. UU ini sebagai penyempurnaan dari UU No 11/2008 tentang informasi dan Transaksi Elektronik/ITE. Maka peningkatan kapsitas dan kualitas adalah layak diupayakan.