Pemilihan Ketua Umum Partai Politik Secara Aklamasi Bisa Mengurangi Proses Demokrasi

Sejumlah partai politik dalam waktu dekat akan menyelenggarakan pemilihan umum. Meskipun terjadi drama politik menjelang pemilihan, pada akhirnya ketua umum partai politik akan terpilih secara aklamasi. Menurut, Dr. Achmad Sjafi’i, SH.,MS, kepala Program Studi magister Ilmu Adminitrasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Untag Surabaya, aklamasi bisa mengurangi proses demokrasi.

Wajah demokrasi di Indonesia masih sangat ironi. Partai politik yang kerap menyuarakan pentingnya demokrasi, justru menjadi ikon instrumen politik yang tidak demokratis. Partai politik yang akan menyelenggarakan pemilihan ketua umum itu bukanlah partai kecil. Masing-masing partai memiliki banyak kader potensial untuk menduduki posisi ketua umum

Achmad Sjafi’i mengatakan, sebenarnya aklamasi sesuatu hal yang baik karena menunjukkan kesolidan partai politik yang kuat, namun juga mempunyai kelemahan-kelamahan, yaitu tidak mengakomodir dari pilihan-pilihan yang lain. Sehingga proses demokrasi berkurangnya disitu, juga menunjukkan figur yang menonjol dari pada yang lain. Sementara di sisi lain melemahkan hak-hak yang harus dimiliki atau digunakan oleh pemilih, karena tidak ada pilihan yang lain, dan secara politis kurang mendidik.

“ Kalau kita menggunakan proses partai politik di situ ada partai kader yang mencetak kader terbaik oleh partainya, sehingga partai tersebut benar-benar hidup, nanti konsep dan progress kedepannya akan lebih bagus,” kata Achmad Sjafi’i.

Aklamasi di dalam Parpol, lanjut dia, bisa mematikan karir kader yang mempunyai potensi untuk menjadi ketua umum partai. “ Disi lain mereka juga masih bimbang, apakah bisa menyaingi tokoh yang diajukan secara aklamasi disebabkan faktor yang lain, salah satunya dari sisi pemersatu partai barang kali belum teruji walaupun dari pengalamannya bagus,” paparnya.

Menurut Achmad Sjafi’i alangkah bagusnya jika pemimpin itu dari awal lahir sudah mempunyai bakat kepimpinan kemudian dikembangkan melalui pelatihan-pelatihan. “ Pemimpin itu bisa disebabkan karena dilahirkan dan bisa mempunyai karismatik, yang bisa menyatukan konflik-konflik hingga ke bawah, juga bisa lahir dari pelatihan-pelatihan. Alangkah bagusnya memang bisa menggabungkan antara keduanya,” tutupnya.

Aklamasi itu sendiri adalah persetujuan dalam bentuk ucapan atau hal lainnya secara lisan tanpa harus melalui pemungutan suara, sehingga akan didapatkan satu keputusan terhadap pemilihan tersebut. 


Sumber Berita: warta17agustus.com

Bagikan

Comments (0)

Silahkan Tinggalkan Komentar