KAA ke-60 Hasilkan Sikap Tegas Terkait Dominasi Lembaga Dunia yang Masih Dirasa Timpang

Konferensi Asia Afrika (KAA) ke-60  dihadiri oleh pimpinan negara besar Asia dan Afrika menghasilkan beberapa sikap tegas. Salah satunya, melawan dominasi lembaga dunia yang dinilai masih timpang. Langkah tersebut menurut Dr. Bambang Kusbandrijo, MS, ketua Strata 1 (S1) Administrasi Negara, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Untag Surabaya memang sudah semestinya dilakukan.

Presiden Jokowi dalam sambutannya mengatakan bahwa pikiran-pikiran kuno mengenai ketergantungan dengan lembaga-lembaga keuangan dunia untuk menyelesaikan masalah ekonomi harus dibuang. “ Pandangan yang mengatakan bahwa persoalan ekonomi dunia hanya bisa diselesaikan oleh Bank Dunia , IMF (Dana Moneter Internasional), dan ADB (Bank Pembangunan Asia) adalah pandangan usang yang perlu dibuang," tegas Jokowi dalam sambutannya di acara peringatan 60 tahun Konferensi Asia-Afrika (KAA), di Jakarta Convention Center, Rabu (22/4/2015).

Bambang mengaku kagum atas tindakan yang diambil Jokowi saat KAA di Jakarta dan Bandung tersebut, Rabu-Kamis (22-23/4/2015). “ Kita merindukan pemimpin negara-negara dunia ketiga yang tegas, dalam ekonomi politiknya tidak lagi bergantung pada negara neoliberalisme. Langkah Jokowi itu merupakan upaya untuk menghidupkan kembali semangat dari Soekarno di dunia internasional. Dunia ketiga harus maju, mandiri dalam politik, ekonomi, dan budaya,” kata Bambang.

Secara keseluruhan, peserta pertemuan tingkat tinggi KAA pada 22–23 April berasal dari 106 negara. Mereka terdiri atas 21 pemimpin negara, 80 wakil pemimpin negara (wakil presiden/perdana menteri), dan sisanya merupakan utusan khusus dan pejabat tingkat tinggi. Selain itu, sepuluh organisasi internasional hadir dalam pertemuan tingkat tinggi KAA. Mereka, antara lain, PBB, Uni Afrika, ASEAN,  Bank Pembangunan Asia (ADB), Liga Arab, dan South Center.

Lanjut Bambang, hasil KAA harus didukung oleh negara-negara Asia dan Afrika, serta masyarakat tanpa terkecuali dari Indonesia sendiri. “ Semua itu tidak mudah karena berhadapan dengan kepentingan-kepentingan asing. Tidak semua anggota KAA sejalan dengan pemikiran Jokowi. Semua itu harus didukung oleh rakyat yang bisa bekerjasama  , ”

“  Untuk mengubah hal itu membutuhkan generasi yang cerdas. Masyarakat kita masih memiliki sifat konsumtif yang tinggi, sehingga hal ini harus diubah. Harus mau susah tidak hanya mau ambil senangnya saja , ” tambahnya .

Selain itu, menurut Bambang bahwa alangkah bagusnya jika negara Asia dan Afrika bisa mempunyai bank sendiri, maka akan lebih baik, lebih maju, dan tidak lagi dikendalikan oleh asing. “ Tekanan dari negara Asia dan Afrika perlu diberikan kepada asing, bahwa negara Asia dan Afrika juga mampu mandiri ,”  tutup Bambang.

Konferensi Tingkat Tinggi Asia Afrika menghasilkan tiga dokumen penting. Yakni , Pesan Bandung 2015, Deklarasi Penguatan Kemitraan Strategis Asia dan Afrika, serta Deklarasi Kemerdekaan Palestina. Sidang juga menyepakati untuk menetapkan 24 April sebagai Hari Asia Afrika dan menetapkan Bandung sebagai ibu kota solidaritas Asia Afrika. Juga , mendukung berdirinya Asia Afrika Center di Indonesia.


Sumber Berita: warta17agustus.com

Bagikan

Comments (0)

Silahkan Tinggalkan Komentar